Membangun Kebijakan Pertahanan Maritim Indonesia: Telaah Kritis Fungsi Keamanan Laut Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut

Authors

  • Widya Setiabudi Sumadinata Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran

DOI:

https://doi.org/10.37950/ijd.v4i2.259

Keywords:

Defence policy, maritime security, Indonesian Navy, naval battle, non-traditional security

Abstract

Abstract

The development of security dynamics in the Southeast Asia region shows the existence of two significant threats which are traditional and non-traditional threats. In Indonesia, one of the threats to security is the great power rivalry between the United States and China. The great power rivalry between these two states has the potential to escalate into an open war which can happen in Indonesia and involve Indonesia. This threat potential means that the Indonesian Navy needs to have operational readiness in the event of a naval war and that development and deployment of a battle-ready navy is needed. This article argues that the Indonesian Navy and other stakeholders in formulating maritime defence policy are not yet able to optimally develop and deploy the Indonesian Navy’s power to be ready for naval warfare. This is caused by the Indonesian Navy’s weak autonomy in formulating the maritime defence policy and Indonesia’s strategic culture that tends to focus on non-traditional security threats. This causes the Indonesian Navy to tend to develop and be deployed in non-traditional security settings rather than be developed and deployed for naval battle.

Keywords: Defence policy; maritime security; Indonesian Navy; naval battle; non-traditional security

 

Abstrak

Perkembangan dinamika keamanan kawasan Asia Tenggara menunjukkan adanya dua ancaman besar yaitu ancaman keamanan tradisional dan ancaman keamanan non-tradisional. Salah satu ancaman keamanan tradisional yang mengancam Indonesia, khususnya pada sektor maritim, adalah great power rivalry yang terjadi antara AS dan Tiongkok. Great power rivalry yang terjadi antara dua negara tersebut berpotensi tereskalasi menjadi perang terbuka yang dapat terjadi di perairan Indonesia dan melibatkan Indonesia. Kemungkikan tersebut berarti TNI AL perlu memiliki kesiapan dalam menghadapi pertempuran laut sehingga pengembangan dan gelar kekuatan laut menjadi aspek penting dalam pembuatan kebijakan pertahanan maritim nasional. Artikel ini berargumen bahwa TNI AL dan stakeholder lainnya dalam formulasi kebijakan pertahanan maritim belum mampu melakukan pengembangan dan gelar kekuatan pertempuran laut dengan optimal. Hal ini disebabkan oleh lemahnya otonomi TNI AL dalam formulasi kebijakan pertahanan maritim dan budaya stratejik Indonesia yang cenderung mengedepankan isu keamanan non-tradisional sehingga TNI AL justru lebih banyak menjalankan fungsi keamanan internal dan non-tradisional dibandingkan mengembangkan kemampuan tempur

Kata Kunci: Kebijakan pertahanan; keamanan maritim; TNI AL; pertempuran laut; keamanan non-tradisional.

References

Arif, M. & Kurniawan, Y., 2017. “Strategic Culture and Indonesian Maritime Securityâ€, Asia & the Pacific Policy Studies, 5 (1): 77-89.

Fealy, G. & White, H., 2016. “Indonesia’s ‘Great Power’ Aspirations: A Critical Viewâ€, Asia & The Pacific Policy Studies, 3 (1): 92-100.

Haras, Y. M., 2017. “Peran TNI AL dalam Mendukung Terwujudnya Indonesia Sebagai poros Maritim Dunia Perspektif Manajemen Pertahananâ€, Jurnal Prodi Manajemen Pertahanan, 3 (2): 1-14.

Other Than War. London: Routledge.

Hidayat, S. & Sidhha, A., 2018. “Indonesia’s Maritime Defence Paradigm Sine Qua Non Global Maritime Fulcrumâ€, Jurnal Pertahanan, 4 (3): 136-144.

Haripin, M., 2020. Civil-Military Relations in Indonesia: The Politics of Military Operations Huntington, S., 1957. The Soldier and the State: The Theory and Politics of Civil-Military Relations. London: The Belknap Press of Harvard University Press.

Laksmana, E. A., 2019. “Civil-Military Relations under Jokowiâ€, Asia Policy, 14 (4): 63-71.

Le Mière, C., 2014. “Paragunboat Diplomacyâ€, Maritime Diplomacy in the 21st Century. London: Routledge, hh. 30-47.

Mahan, A. T., 1965. The Influence of Sea Power upon History: 1660-1783. Boston: Little, Brown & Co.

Mietzner, M., 2006. The Politics of Military Reform in Post-Suharto Indonesia: Elite Conflict, Nationalism, and Institutional Resistance. Washington D. C.: East-West Center.

Morris, L. J & Paoli, G. P., 2018. “Assessing Indonesia’s maritime security priorities and related threatsâ€. A Preliminary Assessment of Indonesia’s Maritime Security Threats and Capabilities. Cambridge: RAND Corporation, hh. 21-30.

Mufarida, B., 2021. “TNI AL Kerahkan 6 KRI Bantu Penanganan Bencana NTTâ€, Okezone [daring]. Tersedia di: https://nasional.okezone.com/read/2021/04/07/337/2391077/tni-al-kerahkan-6-kri-bantu-penanganan-bencana-ntt (diakses pada 4 Februari 2022).

Peraturan Menteri Pertahanan Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012 Tentang Kebijakan Penyelarasan Minimum Essential Force Komponen Utama, 2012. Jakarta: Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2019 Tentang Susunan Organisasi Tentara Nasional Indonesia, 2019. Jakarta: Presiden Republik Indonesia.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2016 Tentang Susunan Organisasi Tentara Nasional Indonesia, 2016. Jakarta: Presiden Republik Indonesia.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2019 Tentang Susunan Organisasi Tentara Nasional Indonesia, 2019. Jakarta: Presiden Republik Indonesia.

Piracy and Armed Robbery Report for the Period 1 January-31 December 2020, 2021. London: International Chamber of CommerceInternational Maritime Bureau

Salleh, A. et al., 2021. “Indonesiaâ€. The South China Sea: Realities and Responses in Southeast Asia. New York: The Asia Society Policy Institute, hh. 36-41.

Samy, M. & Kusumadewi, J. A., 2020. “Diplomasi Pertahanan Maritim Indonesia dalam Menghadapi Ancaman Keamanan Non-Tradisional: Upaya Mewujudkan Visi Poros Maritim Duniaâ€, Jurnal Hubungan Internasional, 14 (1): 45-62.

Sebastian, L. C., et al., 2018. “Civil-Military Relations in Indonesia after the Reform Periodâ€, Asia Policy, 13 (3): 49-78.

Sulaiman, Y. 2019. “What Threat? Leadership, Strategic Culture, and Indonesian Foreign Policy in the South China Seaâ€, Asian Politics & Policy, 11 (4): 606-622.

Supriyanto, R. A., 2018. “Naval Development in Indonesiaâ€, dalam Till, G. & Supriyanto, R. A. (eds.). Naval Modernisation in Southeast Asia: Problems and Prospects for Small and Medium Navies. London: Palgrave Macmillan.

Suryawan, I. G. P, et al., 2021. “Peran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dalam Perwujudan Good Order at Sea: Studi Kasus Alur Laut Kepulauan Indonesia IIâ€, Jurnal Selat, 8 (2): 149-158.

Till, G., 2009. Seapower: A Guide for the Twenty-First Century. Edisi Kedua. London: Routledge.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2004 Tentang Tentara Nasional Indonesia, 2004. Jakarta: DPR RI

Yakti, P. B. & Susanto, J., 2017. “Poros Maritim Dunia Sebagai Pendekatan Strategi Maritim Indonesia: Antara Perubahan atau Kesinambungan Strategi?â€, Jurnal Global Strategis, 11 (2): 108-125.

Yani, Y. M. & Montratama, I., 2015. “Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia: Suatu Tinjauan Geopolitikâ€, Jurnal Pertahanan, 5 (2): 25-51.

Zahir A., 2021. “Militarization, Power Projection, and Territorial Disputes in The South China Seaâ€, CGS Issue Brief, No. 1, November.

Downloads

Published

2022-06-21

Issue

Section

Articles