Strategi Integrasi Transportasi Publik Lintas Wilayah Berbasis Aglomerasi untuk Mewujudkan Mobilitas Berkelanjutan di Kabupaten Tangerang
Abstract
AbstrakIntegrasi transportasi publik lintas wilayah menjadi kebutuhan strategis bagi Kabupaten Tangerang sebagai bagian dari kawasan aglomerasi Jabodetabek yang mengalami tekanan mobilitas akibat pertumbuhan penduduk, aktivitas komuter, perkembangan kawasan industri, serta ekspansi permukiman skala besar. Data BPS menunjukkan jumlah penduduk Kabupaten Tangerang tahun 2024 mencapai 3.400,49 ribu jiwa, sementara Survei Komuter Jabodetabek 2023 mencatat sekitar 14,9 persen penduduk Jabodetabek berumur lima tahun ke atas merupakan komuter, dengan Kabupaten Tangerang memiliki proporsi komuter 9,0 persen. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi integrasi transportasi publik lintas wilayah, mengidentifikasi faktor penghambat dan pendukung, serta merumuskan model strategi integrasi berbasis aglomerasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui FGD, dokumentasi kebijakan, dan kajian literatur yang dianalisis dengan model Miles, Huberman, dan Saldaña, analisis SWOT, serta kerangka Collaborative Governance. Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama: fragmentasi kelembagaan lintas wilayah, lemahnya integrasi antarmoda dan feeder, belum terpadunya tarif serta informasi perjalanan, dan belum optimalnya pengembangan simpul transportasi berbasis TOD. Kontribusi utama penelitian ini adalah perumusan Agglomeration-Based Sustainable Transport Integration Model (ASTIM) yang terdiri atas institutional collaboration, transport connectivity, agglomeration integration, dan sustainable mobility outcomes. Keunggulan ASTIM terletak pada kemampuannya menggabungkan tata kelola kolaboratif, konektivitas multimoda, integrasi ruang aglomerasi, dan orientasi keberlanjutan dalam satu model strategis sehingga dapat digunakan sebagai kerangka kebijakan transportasi publik lintas wilayah di kawasan metropolitan.
Kata Kunci: integrasi transportasi publik, kawasan aglomerasi, collaborative governance, ASTIM, mobilitas berkelanjutan, Kabupaten Tangerang.
AbstractCross-regional public transport integration is a strategic need for Tangerang Regency as part of the Greater Jakarta agglomeration, which is increasingly exposed to mobility pressure caused by population growth, commuting activities, industrial expansion, and large-scale residential development. Statistics Indonesia reported that the population of Tangerang Regency reached 3,400.49 thousand people in 2024, while the 2023 Jabodetabek Commuter Survey recorded that approximately 14.9 percent of the Jabodetabek population aged five years and over were commuters, with Tangerang Regency accounting for 9.0 percent. This study aims to analyze the existing condition of cross-regional public transport integration, identify its inhibiting and supporting factors, and formulate an agglomeration-based integration strategy. This research uses a descriptive qualitative approach through focus group discussions, policy documentation, and literature review, analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, SWOT analysis, and the Collaborative Governance framework. The findings reveal four main issues: cross-regional institutional fragmentation, weak intermodal and feeder integration, unintegrated fare and travel information systems, and suboptimal development of TOD-based transport nodes. The main contribution of this study is the formulation of the Agglomeration-Based Sustainable Transport Integration Model (ASTIM), consisting of institutional collaboration, transport connectivity, agglomeration integration, and sustainable mobility outcomes. The advantage of ASTIM lies in its ability to combine collaborative governance, multimodal connectivity, agglomeration spatial integration, and sustainability orientation into a single strategic model for public transport policy in metropolitan areas.
Keywords: public transport integration, agglomeration area, collaborative governance, ASTIM, sustainable mobility, Tangerang Regency.
References
Ansell, C., & Gash, A. (2008). Collaborative governance in theory and practice. Journal of Public Administration Research and Theory, 18(4), 543–571.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Tangerang. (2023). Laporan Akhir Pengembangan Konsep Transportasi Cerdas (Smart Transportation) Kabupaten Tangerang. Tangerang: Bappeda Kabupaten Tangerang.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2026). Arah Kebijakan Pembangunan Wilayah Aglomerasi: Integrasi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Materi Sustainable Aglo-City Summit 2026. Jakarta: Kementerian PPN/Bappenas.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Tangerang. (2025). Kabupaten Tangerang Dalam Angka 2025. Tangerang: BPS Kabupaten Tangerang.
Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Komuter Jabodetabek Hasil Survei Komuter Jabodetabek 2023. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Banister, D. (2008). The sustainable mobility paradigm. Transport Policy, 15(2), 73–80.
Chauhan, V., Gupta, A., & Parida, M. (2021). Demystifying service quality of Multimodal Transportation Hub (MMTH) through measuring users’ satisfaction of public transport. Transport Policy, 102, 47–60.
Emerson, K., Nabatchi, T., & Balogh, S. (2012). An integrative framework for collaborative governance. Journal of Public Administration Research and Theory, 22(1), 1–29.
Geurs, K. T., & Van Wee, B. (2004). Accessibility evaluation of land-use and transport strategies: review and research directions. Journal of Transport Geography, 12(2), 127–140.
Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (2026). Sinkronisasi dan Kolaborasi untuk Pembangunan Lintas Wilayah. Materi Sustainable Aglo-City Summit 2026. Jakarta: Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.
Lucas, K. (2012). Transport and social exclusion: Where are we now? Transport Policy, 20, 105–113.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2014). Qualitative data analysis. sage.
Pemerintah Kabupaten Tangerang. (2026). Kebijakan Pembangunan Kewilayahan di Kabupaten Tangerang: Lesson Learns. Materi Seminar Nasional Diskusi Aglomerasi #1 Sustainable Aglo-City Summit 2026. Tangerang: Pemerintah Kabupaten Tangerang.
PT Kereta Commuter Indonesia. (2026). Januari 2026, KAI Commuter Catat Peningkatan Pengguna Layanan Commuter Line di Wilayah Jabodetabek dan Banten. Jakarta: PT Kereta Commuter Indonesia.
Republik Indonesia. (2018). Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi Tahun 2018-2029.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Authors who publish with International Journal of Demos (IJD) agree to the following Open Access terms:
- Authors transfer the copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution- 4.0 International License. that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
